Legislator Mahasiswa

 

Legislator Mahasiswa

Lembaga legislatif di tingkat mahasiswa, Senat Mahasiswa, sebagai lembaga perwakilan mahasiswa mempunyai peranan yang penting dalam tata kelola managemen organisasi mahasiswa. Para anggota Senat Mahasiswa mewakili mahasiswa melalui partai politik, sehingga para anggota ini harus mengatur dirinya agar mengupayakan demokrasi dan mewujudkan tata pemerintahan yang baik dan efisien di organisasinya. Senat Mahasiswa sesuai dengan fungsinya, wajib menjalankan fungsi-fungsi sebagai berikut: Legislasi, Pengawasan dan Pengganggaran. Oleh karena itu, untuk mencapai hasil yang maksimal dari fungsi-fungsi tersebut, kinerja Senat Mahasiswa perlu diperkuat.

Salah satu fungsi Senat Mahasiswa yang perlu diperkuat adalah fungsi Legislasi, oleh karena itu, perancangan undang-undang (Legal Drafting) dalam hal ini Perancangan Peraturan yan dibuat sebagai bagian dari fungsi legislasi merupakan salah satu prioritas dalam mengembangkan program penguatan kapasitas Senat Mahasiswa.

Maka kondisi ideal yang dihadapi mahasiswa bahwa menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, kejujuran dan keadilan, hendaknya tidak boleh berkurang walaupun dalam kondisi lingkungan yang sulit dan tidak memberikan ruang yang menguntungkan bagi kita sekalipun[4].

Agenda mahasiswa terangkum dalam satu kesatuan tugas yang disebut Tri Dharma Perguruan Tinggi. Di dlamnya mencakup aspek-aspek penting yaitu; pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Tidak boleh dipisah-pisah karena memang itulah tugas berat seorang mahasiswa, hanya saja, terkadang mahasiswa hanya mementingkan satu hal saja yaitu pendidikan[5].

Menurut Arbi Sanit dalam Fadli, Fahruz Zaman (1999) ada lima sebab yang menjadikan mahasiswa peka dengan permasalahan kemasyarakatan sehingga mendorong mereka untuk melakukan perubahan. Pertama, sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik, mahasiswa mempunyai pandangan luas untuk dapat bergerak di antara semua lapisan masyarakat. Kedua, sebagai kelompok masyarakat yang paling lama mengalami pendidikan, mahasiswa telah mengalami proses sosialisasi politik terpanjang di antara angkatan muda. Ketiga, kehidupan kampus membentuk gaya hidup unik melalui akulturasi sosial budaya yang tinggi di antara mereka. Keempat, mahasiswa sebagai golongan yang akan memasuki lapisan atas susunan kekuasaan, struktur ekonomi, dan akan memiliki kelebihan tertentu dalam masyarakat, dengan kata lain adalah kelompok elit di kalangan kaum muda. Kelima, seringnya mahasiswa terlibat dalam pemikiran, perbincangan dan penelitian berbagai masalah masyarakat, memungkinkan mereka tampil dalam forum yang kemudian mengangkatnya ke jenjang karier[6].

Oleh karena itu peran-peran mahasiswa yang bisa dimainkan dengan meminjam konsep-konsep Kuntowijoyo, bahwa praksis transendental tidak hanya mampu menyerap dan mengekspresikan secara dialektis sebuah realitas, tapi juga memberi arah bagi realita tersebut serta melakukan penilaian dan kritik sosial budaya secara beradab. Sekaligus menjadi petunjuk ke arah humanisasi dan liberasi.

Organisasi profetik mahasiswa yang sudah menentukan bahwa batasan, arah dan tujuannya adalah sesuai dengan Al Quran, seharusnya menurut Kuntowijoyo-menjadikan Al Quran pula sebagai cara berpikir. Ia akan memberikan kerangka bagi pertumbuhan ilmu pengetahuan empiris dan ilmu pengetahuan rasional yang orisinal dalam arti sesuai dengan kebutuhan pragmatis masyarakat Islam, yaitu mengaktualisasikan misinya menjadi khalifah di bumi[7].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *