PENDAPAT ‘ WAKIL KETUA DPM UMB ,

WAKIL KETUA DPM UMB

Kualitas sumber daya manusia dapat menentukan nasib bangsa di masa depan. Sumber daya manusia yang baik tidak hanya dibentuk dengan pengetahuan saja, tetapi harus melibatkan partisipasi masyarakat dalam isu atau permasalahan yang berkaitan dengan politik.

Partisipasi politik masyarakat merupakan bentuk aktualisasi dari demokrasi dalam politik yang akan mendukung demokratisasi sesuai dengan nilai-nilai demokrasi, yaitu adanya keterbukaan, kebebasan, dan aturan yang berlaku.

Konsep politik lahir di dalam pikiran (mind) manusia dan bersifat abstrak. Konsep ini digunakan untuk menyusun generalisasi abstrak mengenai beberapa fenomena yang disebut sebagai teori. Menurut Aristoteles, politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Sedangkan menurut Prof. Miriam Budiardjo, politik adalah bermacam-macam kegiatan yang menyangkut penentuan tujuan-tujuan dan pelaksanaan tujuan itu.

Berdasarkan kedua teori di atas, dapat diartikan bahwa usaha yang dilakukan mencakup kegiatan-kegiatan tetapi bukan sikap-sikap perilaku politik yang biasanya dipengaruhi oleh orientasi nilai individu yang dimaksudkan agar mempengaruhi pengambilan keputusan yang diambil.

Sebagian masyarakat enggan terlibat dalam politik, sebab politik itu buruk. Namun, berbicara mengenai politik berarti sedang membicarakan perilaku setiap individu di dalam masyarakat secara keseluruhan. Partisipasi politik mendorong setiap individu untuk bertindak menegosiasikan kepentingan masing-masing agar kemudian melahirkan kesepakatan bersama tanpa merugikan pihak manapun.

Sebagai contoh bahwa politik tengah berlangsung, yaitu ketika sedang bersaing dengan tetangga sebelah rumah untuk mendapatkan siatu jabatan rukun warga atau tetangga, atau berdebat mengenai tingginya tarif transportasi umum yang dipengaruhi oleh kenaikan harga bahan bakar minyak dunia.

Berbicara mengenai partisipasi, berarti juga membicarakan persoalan kerelawanan. Yang menarik pada pemilihan presiden Republik Indonesia lalu, yakni banyak sekali relawan yang berasal dari kalangan anak muda. Hal ini bertentangan dengan teori Geronthocracy, yaitu demokrasi itu berada di tangan orang tua dan anak muda hanyalah pengikut. Indonesia mencatat bagaimana anak muda menempati daerah kekuasaan pada usia yang masih muda.

Partisipasi politik dari kalangan anak muda, yaitu sebanyak 1200 relawan muda yang mendukung Jokowi pada saat kampanye, konser dua jari yang diadakan di stadion Gelora Bung Karno menjelang pemilihan umum, dan banyaknya dukungan “2 – I Stand On The Right Side” di media sosial.

Janji dan program kerja nyata yang diusung Jokowi sangat menyentuh kalangan muda yang menginginkan bangsa ini maju. Demokrasi pemilihan umum juga terlihat pada Komisi Pemilihan Umum yang menekankan transparansi data perolehan hasil pemilihan umum ke publik.

Keberadaan partai politik dinilai sebagai alat yang dapat menyadarkan masyarakat melalui peran politiknya. Partai politik mulai menyadari akan pentingnya memperhatikan anak muda sebagai potensi pemilih suara dari kalangan ini.

Kalangan anak muda memberikan keuntungan bagi partai politik apabila masukan pendidikan politik pada kalangan ini diberikan secara intensif sebab kesadaran berpolitik yang tinggi dan demokrasi dalam proses politik pasti akan terwujud. Pendidikan politik penting bagi anak muda karena mereka adalah generasi pemilih di masa yang akan datang.

Uniknya dari penjelasan sebelumnya, ada hal yang membukakan pandangan dalam mewujudkan proses politik di kalangan anak muda. Pada waktu menempuh pendidikan tinggi, seorang asisten dosen sempat mengatakan opininya mengenai proses pemilihan umum yang akan berlangsung.

Di akhir perkuliahan beliau mengatakan bahwa beliau tidak akan ikut serta dalam proses pemilihan umum karena siapa pun yang akan terpilih nantinya tidak akan mampu mengubah bangsa ini menjadi lebih baik—korupsi di mana-mana— dan hak suara yang digunakan dapat dikatakan menjadi sia-sia. Oleh karena itu, beliau lebih memilih menyibukkan diri di rumah dan hanya menyaksikan siapakah yang akan memenangkan pemilihan umum kala itu.

Berangkat dari opini tersebut, terbersit untuk berpikir kembali akan pentingnya partisipasi politik dalam mewujudkan demokrasi politik. Sudah sepantasnya anak muda membuka wawasan politik agar apapun opini publik yang diberikan terkait proses politik jangan diterima begitu saja secara mentah. Lihat sisi lainnya, sebab satu suara dalam pemilihan umum akan menentukan ke mana arah bangsa ini nantinya.

Memilih bukanlah hal yang mudah, namun tidak memilih bukanlah sikap yang bijak. Anak muda juga memiliki peran politiknya. Tugas partai politik adalah melibatkan kalangan anak muda melalui program-program yang terorganisir.

Tidak hanya sampai disini, pendidikan sekolah juga memiliki andil dalam megenalkan anak muda pada dunia politik. Pendidik berperan aktif dalam memberikan pengetahuan tentang pentingnya politik dan partisipasi politik. Seperti halnya seorang siswa sekolah dasar yang mengatakan kepada kedua ortang tuanya agar memilih Jokowi saat pemilihan umum.

Sebab hal ini diperolehnya dari sang guru yang sedang mengenalkan sosok Jokowi akan prestasinya yang telah diakui dunia dan masuk ke dalam ”The World’s 50 Greatest Leader” versi majalah Fortune.

Bukan bermaksud untuk mengkotak-kotakkan pandangan politik, akan tetapi lebih melihat pada bagaimana partisipasi poltik dibangun sedini mungkin agar demokrasi proses politik tercapai. Agar diperhatikan dalam membangun wawasan politik bagi generasi muda adalah pentingnya nilai-nilai demokrasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *